Sunday, April 27, 2008

Kanker Esofagus

China dan kawasan tertentu di Asia Tenggara termasuk

kawasan berinsiden tinggi kanker esofagus. Operasi

merupakan metode utama terapi tuntas kanker esofagus

stadium dini, angka kesembuhan sekitar 80%. Namun

pasien kanker esofagus berikut ini sering kali tidak

dapat atau sulit dioperasi: (1) kanker di segmen atas

esofagus; (2) tumornya terlalu besar, lebih dari 7 cm;

(3) kanker mengenai organ di luar esofagus atau sudah

terdapat metastasis jauh; (4) usia pasien terlalu

lanjut; (5) pasien dengan penyakit serius pada

jantung, hati, ginjal, paru, dll.

Terhadap kanker esofagus yang tidak dapat dioperasi,

terapi berikut dapat dilakukan:

1. Terapi fotodinamik: ke dalam pembuluh darah

disuntikkan sejenis zat fotosensitif khusus. Obat itu

dapat secara selektif berkumpul di dalam jaringan

kanker. Setelah 48 jam, melalui endoskopi dengan laser

630 nm tumor itu disinari, hingga timbul molekul

oksigen tunggal yang toksik di dalam tumor, akibatnya

tumor akan dirusak. Selain itu pembuluh darah yang

memberi makan jaringan tumor tersumbat hingga tumor

nekrosis. Sedangkan jaringan sehat tidak terpengaruh.

Metode terapi ini jelas efektif untuk kanker esofagus

stadium dini, angka keberhasilannya 90%; pada kanker

esofagus stadium lanjut, metode ini merupakan terapi

paliatif yang efektif, terutama sesuai bagi pasien

yang tidak dapat dioperasi. Biasanya dalam 48-72 jam

keluhan sulit menelan pasien membaik, yang semula tak

dapat makan menjadi dapat menelan makanan.

2. Terapi radiasi: radioterapi paliatif dapat membuat

60-85% pasien yang tidak dapat menelan membaik, tapi

lebih dari separuhnya dapat kambuh, maka tidak

dianjurkan sebagai terapi tunggal.

3. Kemoterapi dan infus local kemoterapi: obat yang

paling efektif untuk kanker esofagus termasuk DDP,

5FU, bleomisin, gemsitabin, MMC, dll. Biasanya

digunakan kemoterapi kombinasi dengan obat utama DDP,

efektivitas mencapai sekitar 60%. Kemoterapi infus

selektif arteri esofageal, yaitu melalui kateter

disuntikkan obat kemoterapi ke dalam arteri pemasok

kanker, dapat meningkatkan konsentrasi obat di dalam

jaringan kanker, hasilnya lebih baik dari kemoterapi

sistemik, efek sampingnya ringan.

4. Pemasangan sten dalam esofagus: ini merupakan

terapi paliatif dengan endoskopi yang paling sering

digunakan. Di bawah pantauan sinar-X atau melalui

endoskop dipasang sten dari karet atau aloi di daerah

penyempitan esofagus, ini dapat meredakan gejala

obstruksi dalam jangka waktu cukup lama, terutama

sesuai untuk kasus dengan fistel esofago-trakea, tapi

tidak sesuai untuk kanker segmen atas esofagus dan di

perbatasan esofagus dan lambung. Sten radioaktif

adalah sten yang dinding luarnya terdapat biji

radioaktif (misalnya I-125), bila dipasang ke daerah

kanker esofagus dapat meregangkan esofagus sekaligus

meradiasi kanker, sama seperti radiasi internal.

5. Terapi ablasi atau injeksi melalui endoskopi:

dengan laser, gelombang mikro, elektrokoagulasi

bipolar dll. menyebabkan jaringan kanker koagulasi

panas dan nekrosis; atau ke dalam jaringan kanker

disuntikkan zat sklerotik seperti etanol absolut atau

obat antikanker agar kanker nekrosis.

Secara klinis berbagai metode di atas sering

dikombinasikan, dengan prinsip sebagai berikut: (1)

jika penyempitan esofagus menonjol, dapat lebih dulu

dipasang sten, agar pasien dapat segera makan,

memperbaiki status gizinya, setelah 1 minggu,

dilakukan terapi fotodinamik atau radiasi; (2) untuk

pasien lanjut usia atau dengan penyakit serius

jantung, hati, ginjal, paru dll. dapat hanya dipasang

sten ditambah terapi fotodinamik; (3) kemoterapi

sistemik memiliki efek samping besar, maka dapat lebih

dulu dilakukan kemoterapi infus lokal; (4) untuk kasus

dengan fistel esofagus, umumnya dapat dipasang sten

berselaput, dan diusahakan terapi fotodinamik; (5)

bila tidak tersedia terapi fotodinamik, dapat

dilakukan terapi ablasi atau injeksi lokal dengan

endoskopi, tapi ini tidak sesuai bagi pasien yang

sudah dipasang sten.

No comments: