China dan kawasan tertentu di Asia Tenggara termasuk kawasan berinsiden tinggi kanker esofagus. Operasi merupakan metode utama terapi tuntas kanker esofagus stadium dini, angka kesembuhan sekitar 80%. Namun pasien kanker esofagus berikut ini sering kali tidak dapat atau sulit dioperasi: (1) kanker di segmen atas esofagus; (2) tumornya terlalu besar, lebih dari 7 cm; (3) kanker mengenai organ di luar esofagus atau sudah terdapat metastasis jauh; (4) usia pasien terlalu lanjut; (5) pasien dengan penyakit serius pada jantung, hati, ginjal, paru, dll. Terhadap kanker esofagus yang tidak dapat dioperasi, terapi berikut dapat dilakukan: 1. Terapi fotodinamik: ke dalam pembuluh darah disuntikkan sejenis zat fotosensitif khusus. Obat itu dapat secara selektif berkumpul di dalam jaringan kanker. Setelah 48 jam, melalui endoskopi dengan laser 630 nm tumor itu disinari, hingga timbul molekul oksigen tunggal yang toksik di dalam tumor, akibatnya tumor akan dirusak. Selain itu pembuluh darah yang memberi makan jaringan tumor tersumbat hingga tumor nekrosis. Sedangkan jaringan sehat tidak terpengaruh. Metode terapi ini jelas efektif untuk kanker esofagus stadium dini, angka keberhasilannya 90%; pada kanker esofagus stadium lanjut, metode ini merupakan terapi paliatif yang efektif, terutama sesuai bagi pasien yang tidak dapat dioperasi. Biasanya dalam 48-72 jam keluhan sulit menelan pasien membaik, yang semula tak dapat makan menjadi dapat menelan makanan. 2. Terapi radiasi: radioterapi paliatif dapat membuat 60-85% pasien yang tidak dapat menelan membaik, tapi lebih dari separuhnya dapat kambuh, maka tidak dianjurkan sebagai terapi tunggal. 3. Kemoterapi dan infus local kemoterapi: obat yang paling efektif untuk kanker esofagus termasuk DDP, 5FU, bleomisin, gemsitabin, MMC, dll. Biasanya digunakan kemoterapi kombinasi dengan obat utama DDP, efektivitas mencapai sekitar 60%. Kemoterapi infus selektif arteri esofageal, yaitu melalui kateter disuntikkan obat kemoterapi ke dalam arteri pemasok kanker, dapat meningkatkan konsentrasi obat di dalam jaringan kanker, hasilnya lebih baik dari kemoterapi sistemik, efek sampingnya ringan. 4. Pemasangan sten dalam esofagus: ini merupakan terapi paliatif dengan endoskopi yang paling sering digunakan. Di bawah pantauan sinar-X atau melalui endoskop dipasang sten dari karet atau aloi di daerah penyempitan esofagus, ini dapat meredakan gejala obstruksi dalam jangka waktu cukup lama, terutama sesuai untuk kasus dengan fistel esofago-trakea, tapi tidak sesuai untuk kanker segmen atas esofagus dan di perbatasan esofagus dan lambung. Sten radioaktif adalah sten yang dinding luarnya terdapat biji radioaktif (misalnya I-125), bila dipasang ke daerah kanker esofagus dapat meregangkan esofagus sekaligus meradiasi kanker, sama seperti radiasi internal. 5. Terapi ablasi atau injeksi melalui endoskopi: dengan laser, gelombang mikro, elektrokoagulasi bipolar dll. menyebabkan jaringan kanker koagulasi panas dan nekrosis; atau ke dalam jaringan kanker disuntikkan zat sklerotik seperti etanol absolut atau obat antikanker agar kanker nekrosis. Secara klinis berbagai metode di atas sering dikombinasikan, dengan prinsip sebagai berikut: (1) jika penyempitan esofagus menonjol, dapat lebih dulu dipasang sten, agar pasien dapat segera makan, memperbaiki status gizinya, setelah 1 minggu, dilakukan terapi fotodinamik atau radiasi; (2) untuk pasien lanjut usia atau dengan penyakit serius jantung, hati, ginjal, paru dll. dapat hanya dipasang sten ditambah terapi fotodinamik; (3) kemoterapi sistemik memiliki efek samping besar, maka dapat lebih dulu dilakukan kemoterapi infus lokal; (4) untuk kasus dengan fistel esofagus, umumnya dapat dipasang sten berselaput, dan diusahakan terapi fotodinamik; (5) bila tidak tersedia terapi fotodinamik, dapat dilakukan terapi ablasi atau injeksi lokal dengan endoskopi, tapi ini tidak sesuai bagi pasien yang sudah dipasang sten. |
![Validate my Atom 1.0 feed [Valid Atom 1.0]](valid-atom.png)
No comments:
Post a Comment